Indonesia English Arabic  
  Home
  Berita
  Profil
  Mukadimah
  Lembaga Otonom
  Bagian Nasab
  Laporan Kegiatan
  Buletin
  Galeri Photo
  Lain-Lain
  Jadwal Acara Pernikahan
  Berita Duka
  Link
 

Login

 

Password

 
 

Daftar menjadi anggota

Lihat Forum



 
Shubuh 04:51:00 WIB
Dzhur 11:58:00 WIB
Asr 15:21:00 WIB
Maghrib 17:52:00 WIB
Isha 19:06:00 WIB

 
 


Berita

Alam Dunia dan Umat Islam

  Rabu, 30 Juni 2010. Dikirimkan oleh : Sekretariat

ALAM DUNIA DAN UMAT MANUSIA
Ayat-ayat ini telah digolongkan kedalam tiga kelompok:
  1. Memberitahukan kita bahwa semua ciptaan Allah menyembah Allah
  2. Semua ciptaanNya merupakan petunjuk Allah untuk membimbing manusia
  3. Memberitahu kita posisi manusia dalam ciptaanNya, memperingatkan manusia akan dosa, dan mengingatkannya mengenai takdir abadi dan meyakini akan adanya Hari Kiamat.
Demi kenyamanan, ayat-ayat tersebut telah dikelompokkan berdasarkan fokus tertentu, tetapi pada kenyataannya ayat-ayat tersebut saling berkaitan erat dan harus dibaca dan dimengerti dalam keterkaitannya satu sama lain. Terdapat banyak ayat yang mirip di dalam Al-Qur’an dan juga banyak hadits yang saling melengkapi. Sekarang mari kita melihat apa makna ayat-ayat yang dikelompokkan tersebut.

Pertama, seluruh ciptaan Allah merupakan milik Allah. Semua yang ada di dunia ini adalah hambaNya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara manusia dan ciptaanNya yang lain, yang bernyawa ataupun tidak bernyawa. Setiap makhluk merupakan ciptaan Allah. Dari sini dapat ditarik dua kesimpulan yang tidak dapat dipungkiri lagi: manusia tidak boleh berpikir bahwa mereka memiliki makhluk ciptaan Allah, dan merekapun layak untuk dihormati oleh manusia. Penghormatan terhadap makhluk ciptaan Allah merupakan penghormatan kepada Allah.

Kedua, setiap makhluk ciptaan Allah menyembah Allah. Mereka menyembah Allah dengan cara ta’at terhadap setiap perintahNya. Meskipun demikian, hal ini tidak dapat disamakan dengan manusia. Kita menggunakan kebebasan kita dalam memilih untuk tidak menta’ati Allah. Manusia sering kali memilih untuk tidak menyembah Allah, yang dimana tidak dilakukan oleh ciptaan Allah yang lain. Mereka mempunyai kedudukan yang tidak pernah gagal dalam menyembah Allah, tidak seperti manusia yang dapat gagal dalam hal ini. Saat seorang manusia beribadah, dia hanya bergabung dengan jema’ah pada umumnya, tanpa menghadirkan rasa menyatu dengan Allah. Al-Qur’an telah menjelaskan mengenai hal ini dengan sangat jelas, sebagaimana juga yang telah dijelaskan oleh beberapa hadits, dan salah satunya dapat dilihat dalam Shahih Muslim: “Nabi Muhammad SAW berkata bahwa Allah pernah sekali waktu menegur seorang Nabi SAW karena ia menghancurkan sebuah koloni semut dengan amarah karena ia disengat oleh semut-semut tersebut. Allah berkata kepadanya: ‘Kamu telah menghancurkan sebuah komunitas makhluk yang menyembahKu’.” Cerita ini sangat menyentuh tetapi juga sangat menyeramkan. Apakah ada ruang bagi seorang Muslim untuk melihat dan menghargai para pemuja Allah ini dengan penghormatan dan kekaguman pada mereka? Kita harus mengingat bahwa menghalangi atau menghambat para pemuja Allah tersebut dalam penghambaan mereka kepada Allah dapat menimbulkan kemurkaan Allah; dan bila Allah tidak senang, maka kekuatan apa yang dapat melepaskan kita dari amarahNya?

Ketiga, setelah beriman kepada Allah, hal lain yang paling penting untuk seorang Muslim adalah kewajiban dalam menunaikan sholat yang harus dilakukan lima kali sehari dimanapun ia berada. Kewajiban untuk menunaikan sholat telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dan ia berkata bahwa seluruh bumi ini adalah mesjid bagi umat Muslim. Maksudnya adalah tidak hanya mesjid yang suci yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk sholat, tetapi juga seluruh bumi, tidak ada perbedaan diantara keduanya. Setiap umat Muslim mempunyai kewajiban untuk memelihara kesucian bumi. Umat Muslim tidak boleh merusaknya.

Keempat
, Allah menyebut Al-Qur’an sebagai ayat-ayatNya atau petunjukNya. Secara umum, Allah juga menyebut alam ciptaanNya sebagai ayat-ayatNya atau petunjukNya. Jadi Allah mempunyai dua Buku untuk manusia agar mereka bisa mendapatkan petunjukNya: satu dalam perkataanNya, al-Qur’an; dan yang kedua dalam alam ciptaanNya. Pikirkanlah bagaimana Allah seringkali meminta perhatian kita untuk alam ciptaanNya sebagai petunjuknya dalam Al-Qur’an. Sebagaimana kita bersyukur kepada Allah karena karuniaNya dalam Al-Qur’an, kita juga harus dapat bersyukur akan karuniaNya yang lain. Al-Qur’an akan selalu menjadi sebuah Kitab yang tertutup tanpa dibarengi oleh alam ciptaanNya yang lain. Ayat-ayat ini pada dasarnya mempunya empat fungsi bagi manusia. Kitab Alam ciptaanNya merupakan sebuah penyaksian terhadap kekuasaan dan kekuatan Allah. Ayat-ayat ini akan selalu menjadi pengingat bagi kita akan kekuasaanNya. Seluruh alam ini diciptakan Allah agar dapat selalu menjadi pengingat bagi manusia. Sebagai bahan renungan bagi manusia akan keindahan alam, harmoni yang tercipta dan seluruh ciptaanNya. Dengan demikian hal ini akan menjadi salah satu komponen yang penting dalam ibadah kepadaNya dan menyembahNya. Alam adalah undangan yang selalu berulang terhadap thikrullah, atau untuk mengingatkan diri akan kehadiran Allah disetiap tempat. Setiap bentuk ibadah disebut dengan thikhrullah. Orang yang seperti apa yang tidak menghormati undangan personal seseorang? Kita harus melakukan sebisa dan sebaik mungkin untuk melindungi dan memelihara Kitab Allah yang lain ini.

Kelima, seorang Muslim mempunyai sebuah tanggungjawab yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaanNya yang lain. Ia adalah khalifah Allah atau pemimpin di bumi ini. Manusia diberikan tugas untuk memelihara ciptaan Allah. Seorang pemelihara tidak boleh menyakiti apapun yang ada didalam perlindungannya. Apakah seorang Muslim dapat menolak untuk menerima tugas ini dan tetap menjadi seorang Muslim? Seorang manusia tidak bermakna apapun bila ia tidak mau menerima perannya sebagai khalifah Allah.

Keenam, Allah memerintahkan kita untuk mencontoh Nabi Muhammad SAW yang dimana Allah menyebutnya sebagai manusia terbaik dan rahmatan lil ‘alamin, yang bermakna pengampunan untuk seluruh makhluk (QS 21 : 107). Kehidupan Nabi Muhammad SAW penuh dengan contoh cinta, kasih sayangnya, dan perhatiannya kepada setiap ciptaan Allah dan bagaimana ia tidak pernah merasa lelah untuk selalu mengingatkan para sahabatnya yang mulia mengenai hal ini. Bagaimana mungkin seorang Muslim yang ingin mengikutinya tidak mempunyai sifat penyayang dan pengampun terhadap ciptaan Allah, baik yang bernyawa maupun tidak?

Sebagai tambahan, marilah kita merenungkan kembali bagaimana Allah lagi dan lagi berjanji dalam Al-Qur’an bahwa Ia akan memberikan pahala di akhirat kepada mereka yang mena’atiNya berupa surge atau sebuah taman yang sangat indah yang akan menjadi tempat tinggal abadi mereka. Surga dijelaskan sebagai sebuah tempat yang tidak dapat digambarkan keindahannya yang dihiasi dengan pepohonan dan sungai-sungai. Hal ini menggambarkan kebesaran Allah akan alam ciptaanNya. Bila Tuhan kita sangat menyukai dan mencintai alam, bagaimana mungkin kita, para hambaNya, tidak menyukainya, atau bahkan membiarkan orang lain merusaknya?

Pada poin ini kita dapat bertanya: Apakah manusia tidak diperbolehkan mengambil kebutuhan dari alam yang diciptakan ini? Iya, mereka diperbolehkan, pastinya. Dan manusia mempunyai izin dari Sang Pemilik Alam untuk melakukannya, seperti yang dikatakan oleh Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan segala sesuatunya agar dapat digunakan oleh manusia. Tetapi hal ini dapat dilakukan hanya bila kita mempunyai niat untuk memenuhi fungsi kita sebagai manusia, sebagai ciptaanNya yang sempurna di bumi ini. Izin yang diberikan tidaklah tanpa syarat dan kepemilikan akan alam tidaklah diberikan kepada manusia. Lalu ada sebuah pertanyaan: seberapa banyak seorang Muslim diperbolehkan untuk mengambilnya? Hanya sekecil itulah yang dapat membuat kita cukup secara fisik dan memperbolehkan kita untuk menghentikan tugas kita sebagai pemelihara ala mini. Segala sesuatu diluar itu merupakan bentuk pencurian dan pelanggaran. Terlebih lagi, sedikit apapun yang kita ambil dari alam ini, harus kita lakukan dengan kerendahan hati dan dengan kesadaran akan kepapaan kita, dengan menghormati dan menghargai alam yang ada dan dalam rasa syukur yang tinggi kepada Tuhan kita yang telah menciptakannya dan dengan kasih sayangNya memperbolehkan kita untuk mengambilnya. Kemewahan peradaban modern tidak mempunyai tempat disini. Tidak ada ruang untuk tamak dan boros dalam Islam. Allah dan utusanNya Nabi Muhammad SAW telah berulangkali mengingatkan umat Muslim untuk melawan kedua sifat terkutuk ini. Meskipun bila seseorang mengambil wudhu di sebuah sungai, penggunaan air yang berlebihan juga tidak diperbolehkan.

Kita harus mengingat bahwa Allah memberikan rahmatNya berupa alam kepada kita supaya Ia dapat mengetes kita dan kita harus memberikan pertanggungjawaban kita kepadaNya atas segala sesuatu yang kita lakukan terhadap alam ciptaanNya. Apakah kita menerima karuniaNya dengan penghormatan, kerendahan hati dan syukur kepadaNya? Apakah kita menerima peran kita sebagai pemelihara? Apakah kita berada dalam batasan yang telah ditetapkan oleh Allah? Atau apakah kita menjadi sombong dan menghambur-hamburkannya? Semua ini adalah pertanyaan yang sangat serius yang dimana kita harus dapat menjawabnya di Hari Akhir. Pada saat itu kita tidak akan mempunyai jalan untuk lari dari tanggung jawab kita. 
Kita tidak boleh lupa bahwa masing-masing dari kita akan berhadapan dengan Allah pada Hari Akhir nanti secara sendiri-sendiri dan terpisah. Tidak ada seorangpun yang dapat menjadi penolong kita. Tidak ada seorangpun yang dapat menanggung beban kita. Semua ciptaan Allah, besar atau kecil, akan hadir pada Hari Kebangkitan itu untuk berbicara membela kita atau melawan kita.

Dalam Islam segala sesuatunya berkaitan dengan hubungan – hubungan manusia dengan Allah, dengan utusanNya, dengan dirinya sendiri, dengan manusia yang lain dan dengan alam ciptaan disekelilingnya. Kesuksesannya membangun hubungan dengan Allah tergantung pada kemampuannya dalam membangun dan memelihara hubungan baik dengan sesama ciptaanNya. Meskipun seorang Muslim tidak akan dapat terus menerus tidak memperhatikan alam ciptaanNya atau tidak tertarik dengan apa yang terjadi pada alam. Kita Umat Islam adalah, secara definisi, para pemerhati lingkungan: kita tidak mempunyai pilihan lain lagi.
Tetapi perhatian umat Muslim terhadap alam bukanlah suatu kebutuhan praktis semata; ini adalah sebuah permintaan rohani yang penting yang ada pada setiap umat Muslim. Umat Muslim tidak diperkenankan untuk melihat alam sebagai gudang sumber daya alam yang akan dieksploitasi, justru sebaliknya, alam yang ada haruslah diatur secara hati-hati. Demikian juga umat Muslim tidak diperkenankan untuk melihat keindahan alam hanya semata-mata sebagai tempat rekreasi atau tempat kunjungan wisatawan. Mereka diharuskan untuk melihat alam sebagai sebuah fenomena yang diberikan kepada mereka oleh Allah sebagai bagian dari rencanaNya dengan kebesaranNya sebagai sang Maha Pengampun jiwa dan penghambaan. Hubungan manusia dan alam sekitarnya mencerminkan hubungannya dengan Allah dan merupakan sebuah faktor penting dalam ibadah kepadaNya. Seorang Muslim, kemudian, bukanlah hanya seorang pemerhati lingkungan, tetapi juga seorang pecinta lingkungan yang sangat dimuliakan.

Pada hal ini haruslah diakui bahwa umat Muslim sungguh sangat gagal dalam menjalankan tugas mereka. Dari apa yang telah diajarkan oleh Allah dan utusanNya Nabi Muhammad SAW kepada kita mengenai bumi dan segala hal yang terdapat didalamnya, seharusnya seorang Muslim-lah yang menjadi orang pertama yang merasa takut dan tersakiti atas apa yang telah terjadi pada planet ini dan harusnya menjadi orang yang berada pada garis depan perlawanan terhadap degradasi lingkungan. Namun sayangnya, keadaan ini belumlah dapat menjadi kenyataan. Dalam hal ini umat Muslim belum dapat menjawab panggilan agama mereka.

Meskipun demikian, panggilan untuk melepaskan kewajiban sebagai seorang Muslim tetap ada. Kita perlahan-lahan meninggalkan tugas dan tanggungjawab kita sebagai seorang Muslim dengan resiko akan menimbulkan ketidak senangan Allah. Ada banyak hal yang dapat dilakukan baik secara individual maupun bersama-sama. Usaha bersama dapat dilakukan hanya bila ada keinginan dari diri masing-masing. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan pada tahapan pribadi yang dapat meningkatkan kondisi lingkungan. Tetapi disisi lain juga ada hal-hal yang lebih besar lainnya yang hanya dapat dilakukan secara bersama-sama. Umat Muslim harus dapat saling bekerjasama satu sama lain, terutama juga dengan mereka yang berkeyakinan berbeda, yang secara aktif terlibat dalam perjuangan lingkungan yang besar dan penting ini.
Bagaimanapun juga ada satu kebenaran besar yang harus dapat kita terima. Bila kita benar-benar menginginkan peningkatan terhadap lingkungan kita, kita harus menyerahkan segala bentuk kehidupan dan kenyamanan modern kita, tidak hnaya kebiasaan boros dan kemewahan. Kita harus membongkar banyak hal yang telah kita bangun. Kita tidak boleh membodohi diri kita sendiri dengan mempercayai bahwa beberapa teknologi ajaib akan muncul dan mempersilakan kita untuk melanjutkan ketamakan kita, kebiasaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, yang dapat memberikan dampak buruk kepada lingkungan kita. Hal itu adalah khayalan buruk diatas kesanggupan kita.
Itulah teknologi, jangan lupa, yang membantu manusia dalam membawa planet ini pada kesengsaraan saat ini. Kita berbicara mengenai amarah alam, tetapi jauh lebih dahsyat kerusakan yang dibawa oleh teknologi  buatan manusia. Teknologi dapat membuat tanah menjadi rata, mengeringkan air laut, mengosongkan inti bumi, mengembalikan manusia menjadi debu dan menyapu bersih semua makhluk hidup, tetapi teknologi tidak dapat mengembalikan harmoni alam yang telah hilang.
Kita dapat menyadari bahwa bumi yang telah rusak bukanlah bumi yang mati, tetapi mematikan. Dengan seiring meningkatnya kekerasan terhadap bumi, maka bumi pun menjadi semakin mematikan. Manusia tidak mempunyai kekuatan untuk mematikannya. Hanya Pemilik Satu-Satunya yang mempunyai kekuatan tersebut. Bumi yang telah lama menderita dan tertekan akan dapat bertahan dan akan melepaskan amarahnya kepada manusia. Manusia yang tamak, sombong, bodoh akan membayar kesalahan mereka sendiri.

Tetapi bila kita benar-benar memiliki niat untuk menahan kebodohan kita, ketamakan kita dan puas dengan apa yang telah kita miliki sekarang, kita mungkin dapat menahan kemerosotan ekologi bumi. Teknologi atau bukan, planet ini tidak dapat mendukung pola hidup modern yang tidak bermoral dan egois. Tidak ada alternatif lain selain menemukan pola hidup yang lebih sederhana dan simple.

Satu pertanyaan yang sesungguhnya, adalah: apakah kita telah siap untuk merubah cara hidup kita yang kita jalani saat ini?
Bagi umat Muslim, hal ini bukanlah hal yang baru. Hal ini sama lamanya dengan umur agama Islam. Hal ini adalah sebuah panggilan untuk kita untuk mengikuti contoh terbaik Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya r.a. untuk hidup seperti yang mereka lakukan. Panggilan dan perintah ini berlaku untuk selamanya dan dalam keadaan apapun. Tentu saja, cara yang terbaik dalam menjalani hidup adalah dengan cara hidup seperti mereka. Dalam hati setiap umat Muslim, apakah mungkin ada yang meragukan hal ini?

  *****

 
  • IDUL FITRI
    Kata \'Id terambil dari akar kata yang berarti kembali, yakni kembali ke tempat atau ke keadaan semula. Ini berarti bahwa sesuatu yang \"kembali\" pada mulanya berada pada suatu keadaan atau tempat, kemudian meninggalkan tempat atau keadaan itu, lalu kembali dalam arti ke tempat dan keadaan semula
  • A U R A T
    Aurat adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dan diharamkan untuk melihatnya. Dalam hukum fikih aurat laki-laki antara pusar dan lutut, sedangkan aurat bagi perempuan, adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Menutup aurat adalah cabang dari iman. Yang tidak punya iman berarti tid
  • LAILATUL QADAR
    Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk i\'tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir Bulan Suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Nabi SAW ini. Beliau berdiri shalat mereka juga shalat, beliau menegadahkan tangannya untuk berdo\'a dan para sahabat
  • AL QUR AN DARI ZAMAN KE ZAMAN
    Para Ulama bersepakat bahwa turunnya Al Qur’an a terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan ayat-ayat yang tur
  • MARHABAN YA RAMADHAN
    Tidak terasa bulan yang penuh rahmat serta berkah telah hadir kembali bersama-sama kita. Aneka ragam cara dilakukan dalam menyambutnya. Semuanya bisa diterima dan dibenarkan, namun yang paling tepat dijadikan teladan dalam menyambut dan mengisi Bulan Suci Ramadhan adalah Rasulullah SAW, para sahabat
 
  Menurut anda apakah website ini bermanfaat ?